Salah Satu Putra Terbaik Bali

 

 

              Ketika diarahkan masuk ke dunia usaha oleh Fak Merta Yudhara sempat bertanya, apakah dia harus meninggalkan dunia politik. Jawaban Pak Merta,seperti dikutipYudhara, sederhana tetapi dalam maknannya: `Nanti setelah jadi pengusaha kamu akan bisa mengukur kemampuanmu sendiri. Kalau kamu sudah sukses, kamu akan memakai dan bergantung pada fasilitasmu. Kamu tidak perlu memakai fasilitas yang bukan milikmu:'
              Pesan tersebut dipahami oleh Yudhara sebagai pendidikan politik model Barat. Di negara maju, pimpinan politik baru mau tampil setelah ekonomi mereka mapan.Dengan kata lain, setelah kaya,barulah mereka menjadi politikus.Di Indonesia, yang justru terjadi sebaliknya.Orangsering disebutkan menjadi politikus untuk menjadi kaya, bukan menjadi kaya untuk menjadi politikus.
              Yudhara tidak terjun ke dunia politik praktis sama sekali.Dia mengikuti petuah ayahnya,mencoba menjadi mandiri,membangun fasilitas sendiri agar tidak tergantung pada orang lain. Meski tekun dan total mengurus dunia usaha,bukan berartiYudhara menutup mata dengan dunia politik. Selama duduk sebagai ketua organisasi profesi seperti ASITA dan Kadin, Yudhara justru menjadi pengamat politik yang aktif karena kedudukannya.

          
    Segala kiprah politikus, kebijakan pemerintah, dan dinamika akar rumput dicermati Yudhara dengan saksama dalam kapasitasnya sebagai ketua organisasi profesi yang sangat strategis.WalaupunYudhara bergerak di dunia industri, darah dan semangat nasionalisnya tidak pernah pudar. Darah mudanya sebagai mantan pimpinan GMNI di Surabaya tetap bergejolak."Apa pun situasinya,saya sekeluarga tetap keluarga nasionalis. Nasionalis religius.Bisa ditebak ke mana arah suara saya pada tiap Pemilu. Kami sekeluarga begitu dan takkan pernah berubah,karena sudah prinsip hidup",katanya suatu ketika kepada wartawan Tokoh (edisi 19-25 Juli 1999), ketika koran wanita ini masih menjadi tabloid politik.
              Sesudah Orde Baru jatuh,banyak teman-temannya menawariYudhara untuk masuk partai.Orang tahu latar belakangnya dari PNI dan aktivitasnya ketika menjadi mahasiswa."Banyak teman menawari saya bergabung di partai. Tetapi saya memilih sebagai pengamat. Di pariwisata, saya punya hubungan luas dan akses ke mana-mana.Saya punya posisi sangat strategis; kataYudhara,seperti dikutip tabloid Tokoh.
              Penolakan itu,lebih jauh Tokoh menulis,bukan berarti mementahkan semangat Yudhara untuk mengaktualisasikan atau mengkristalisasikan "naluri politiknya"yang mengalir dalam darahnya. Hanya saja, ketika itu, akhir 1998, Yudhara masih ingin berkonsentrasi dalam memberikan pengabdian untuk dunia pariwisata.Saat ituYudhara masih menjadi Ketua ASITA dan juga kemudian menjadi Ketua Bali Tourism Board.
              Meninggalkan pengabdian di tengah jalan adalah pantangan bagi Yudhara.
              Selama iklim politik di Tanah Air berubah terus,Yudhara tetap di garis nasionalis. Ketika teman-temannya mantan tokoh PNI dan GMNI mendirikanYayasan Panti Marhenis,dengan ketua umum John Sara dan ketua satu Prof. Dr. I Wayan Bawa,Yudhara pun ikut bergabung, menjadi bendahara satu. Jauh sebelum PDI-P berkibar, menjadi partai pemenang pemilu,Yudhara terus memberikan simpati pada partai wong cilik ini. Pengakuan terhadap jasanya kepada PDI-P muncul dalam bentuk dipilihnyaYudhara sebagai anggota tim ahli Komisi E DPRD Bali bidang pariwisata bersama Prof. Dr. I Wayan Bawa. Untuk urusan pariwisata dan sosial budaya lainnya yang berkaitan dengan tourism, Komisi E DPRD Bali akan memohon masukan dari Yudhara.
              Menurut pengamatanYudhara,Bali memerlukan figur pemimpin yang berwawasan dan siap bekerja untuk masyarakat. Kondisi krisis yang sambung-sinambung sejak tahun 1998,yang diperparah lagi oleh ledakan born di Kuta 12 Oktober2002,1a1u PerangTeluk II,serangan virus penyebab gangguan pernafasan gawat mendadak (SARS), telah membuat situasi sosial politik di Bali khususnya bertambah parah.
              Selain karena tindakan dari pemegang kekuasaan kurang cepat dan efektif, amburadulnya kondisi masyarakat belakangan ini juga terjadi karena ketidakcermatan kalangan politikus dan cendekiawan mengantisipasi dan menangani persoalan yang muncul: `Saya perhatikan, para pakar dan politkus asal ngomong saja. Konsekuensi omongannya kurang diperhatikan.Tindakan nyata memecahkan masalah juga sangat kurang. Saya lihat kondisi rakyat sudah sangat parah", katanya. Yudhara melihat penegakan hukum sangat lemah kecuali kepada masyarakat kelas bawah."Ini tidak bisa dibiarkan terus demikian", tambahnya.
              Solusi pembangunan Bali, menurut Yudhara, bisa dicari dalam nilai dan filosofi Bali. Salah satu di antaranya adalah Tri Hita Karana, filsafat keharmonisan relasi antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), manusia dengan sesama dan masyarakat (par.uongan), serta hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan). Inti dari filsafat ini, menurut Yudhara, adalah keseimbangan. Kata `keseimbangan' inilah, menurut Yudhara,yang selalu ditekan-tekankan kepadanya oleh Pak Merta sebagai landasan dan strategi untuk membangun diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa.
              Yudhara memberikan ilustrasi untuk menegaskan betapa terabaikannya konsep dan implementasi keseimbangan dalam pembangunan Bali. Sebagai ahli dan praktisi pariwisata, Yudhara menunjuk ketimpangan tajam dalam pembangunan pariwisata (atau ekonomi pada umumnya) antara Badung-Utara dengan Badung-Selatan, antara Gianyar Barat dan GianyarTimur,antara Bali Utara dan Bali Selatan. Itu secara geografis. MenurutYudhara, gap-gap sosial-material juga tinggi sekali di Bali. Sebagai pulau kecil, dengan jumlah penduduk yang relatif sedikit (kecuali penyebarannya yang timpang), Bali mestinya bisa ditata dengan baik, masyarakatnya bisa disejahterakan mengingat potensi sumber daya perekonomian dari pariwisata tinggi sekali.
              Yang menarik, menurut Yudhara, pembangunan seni-budaya di Bali bisa disinergikan dengan pembangunan pariwisata karena keduanya berkaitan, tak bisa dilepaskan, seperti `mawar dengan warna merahnya' atau `langit dengan warna birunya'. Konsep pembangunan pariwisata Bali juga sudah tersedia, terutama konsep pariwisata budaya dan paham `pariwisata untuk Bali'.Filsafat Tri Hita Karana bisa digali sedalam-dalamnya dan dijabarkan untuk mendukung konsep pembangunan Bali.
              Keseimbangan dalam pembangunan, menurut Yudhara, hanya bisa dicapai kalau pendidikan maju dan berkualitas. Bagi Yudhara, tak ada jalan lain bagi pemerintah sekarang ini kecuali memberikan prioritas dalam penyediaan anggaran pendidikan, mulai dari sekolah dasar (bahkan pra-sekolah) sampai dengan perguruan tinggi. Jika Bali ingin mengembangkan industri jasa, mengingat potensinya adalah pariwisata, SDM bermutu adalah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar.
              Dalam konteks inilah, Yudhara menyatakan kekagumannya kepada I Gusti Made Tamba dan I Gusti Putu Merta, yang bergerak di bidang pendidikan pada awal kemerdekaan dengan mendirikan Perguruan Rakyat Saraswati. Lewat pendidikan mereka menyiapkan generasi muda Bali agar menjadi manusia yang siap menghadapi masa depan, era global: `Bayangkan, PakTamba sudah membuka mata pelajaran bahasa asing seperti Jerman, Inggris, lalu bahasa Jepang di Saraswati. Itu `kan artinya visi beliau tajam. Beliau berdua paham bahwa masa depan Bali adalah pariwisata dan pariwisata mengharapkan SDM yang siap bersaing di tingkat internasional", kata Yudhara.
Mungkin karena selalu berdiskusi dengan istrinya yang menjadi Rektor Universitas Mahasaraswati, Yudhara menyadari arti penting perguruan tinggi dan sivitas akademiknya sebagai lembaga riset yang bisa mendukung program pemerintah."Universitas itu adalah think tank, kantong pemikir pemerintahan. Pemerintah harus menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi. Kebijakan publik sebaiknya dibuat dengan melibatkan kajian ahli dari perguruan tinggi. Dengan demikian, bukan hanya kebijakan publik akan bagus hasilnya,perguruan tinggi pun menjadi mendapat pembinaan
sekaligus", katanya.
              WalaupunYudhara menghabiskan sedikit saja waktunya dalam dunia perguruan tinggi, keyakinannya menegaskan bahwa universitas mahapenting sebagai partner pemerintah dalam melaksanakan program pembangunan.Diasering mecontohkanThailand,sesama negaraASEAN, yang program pertaniannya berhasil membiakkan varietas unggul berbagai jenis tanaman seperti padi dan buah durian, yang semuanya membantu program kesejahteraan masyarakat. "Saya yakin universitasuniversitas di Bali memiliki staf yang tak kalah cerdasnya dari universitasuniversitas di Thailand", katanya. Dia menyarankan agar padi bali, salak bali, jeruk bali, sapi bali, yang begitu kesohor kualitasnya dijaga dengan baik agar jangan sampai punah.
              Satu lagi gagasanYudhara dalam membangun Bali adalah peningkatan kerja sama dengan negara lain yang cocok dengan kondisi budaya,sosial dan perekonomian Bali.Ini disampaikan karena Bali adalah daerah tujuan pariwisata dan pangsa pasar utamanya adalah orang asing.Selain itu,Bali memiliki potensi kerajinan dan industri konveksi yang pasarnya juga di
luar negeri: `Kerja sama dengan luar negeri mahapenting. Ekspor kita bisa meningkat kalau kerja sama dengan negara lain terus bisa kita jaga dan tingkatkan", katanya.
              Salah satu bentuk konkret kerja sama itu bisa digalang dalam konsep kota kembar (sister city). Ide ini bukan baru karena Bali sudah melaksanakan dan daerah lain di Indonesia juga banyak yang menerapkan. Selama ini, Bali sudah menjalin kerja sama kota kembar dengan kota-kota di Jepang, Korea Selatan, atau Darwin di Australia. Hal ini sudah baik tetapi perlu ditingkatkan apalagi Jepang adalah negara kaya, maju dan memiliki warisan budaya yang klasik yang dalam banyak hal, bisa saling menguntungkan dengan potensi Bali. Di luarsegala gagasan baik membangun Bali, yang paling penting menurut Yudhara adalah kemampuan dan komitmen pemimpin dalam mengabdi kepada masyarakat dan masa depan.
              Pengalaman Yudhara dalam berorganisasi ketika mahasiswa seperti GMNI,sebagai pengusaha dan pemimpin organisasi profesi seperti ASITA, dan sejumlah gagasannya membangun Bali yang banyak dimunculkan lewat media massa, dan posisinya sebagai penasehat Komisi E DPRD Bali telah menempatkan dirinya sebagai salah satu putra terbaik yang dimiliki Bali. Landasan politik dan jiwa wirausaha serta wawasan globalnya sudah terbukti mantap.Adakah publik dan atau partai politik akan meminangnya untuk memimpin Bali, hanya Tuhan yang tahu.

       

Eyckman Yudhara Nama Kecilnya | Jadi Diplomat Cita citanya | Meniti Karier dari Puri Suling
Enam Belas Tahun Memimpin ASITA | Menjadi Konsul Kehormatan Mexico | Salah Satu Putra Terbaik Bali
 
Website Online Marketing by Krish Purnawarman