Meniti Karier dari Puri Suling

 

 

              Restoran Puri Suling berdiri tahun 1965 atas prakarsa Bob Hargrove, orang Amerika yang sebelumnya pernah bekerja sebagai Food and Beverage Manager (F&B Manager) Hotel Bali Beach. Pengalamannya dan keterampilannya di dunia tata hidangan dan minuman memungkinkan dia untuk mendirikan restoran yang kualitasnya tidak kalah dengan restoran yang dikelola di dalam hotel.
              Staff lokal direkrut untuk bekerja di Restoran Puri Suling. Transfer keterampilan terjadi secara tidak langsung. Walaupun agak sulit mendapatkan tenaga yang tertarik bekerja di restoran waktu itu, dengan ketekunannya mendidik orang lokal, Bob Hargrove akhirnya bisa membuat restoran tersebut beroperasi sesuai dengan tuntutan standar dan kualitas waktu itu: `Saya sangat merasakan memperoleh pengalaman kerja yang penting saat membantu Hargrove.Tulus sekali dia meneruskan keterampilan dan pengetahuannya kepada kami", tutur Yudhara.
              Ketika magang di Restoran Puri Suling,Yudhara tiap hari pergi ke Goa Gajah. Pagi dia ke sana dengan mobil dodge (baca: dos) yang sekaligus mengangkut karyawan lain serta materi keperluan dapur dan bahan masakan berupa ikan,daging,sayur,tusuksate,dan aneka jenis minuman. Seharian dia bekerja di Restoran Puri Suling: "Sore hari,sekitar jam empat, baru kami pulang bersama-sama karyawan lain," tambah Yudhara. Beberapa kali kalau mobil dipakai urusan lain, maka Yudhara harus ke Denpasar dengan menumpang kendaraan umum yang lewat. Pernah Yudhara pulang ke Denpasar naik truk.Yang penting biar sampai di rumah.
              Berhubung Restoran Puri Suling hanya satu-satunya restoran di luar hotel waktu itu,kondisi bisnisnya relatif baik.Yang datang adalah grup tur, yang diajak biro perjalanan.Tamu-tamu walked-in juga ada, tetapi tidak banyak.MenurutYudhara,dalam sehari Restoran Puri Suling bisa mendapat 50 orang tamu untuk lunch (makan siang). Jumlahnya ini tergolong banyak untuk ukuran waktu itu.
              Tamu-tamu yang makan siang ke Restoran Puri Suling umumnya wisatawan dari Eropa dan Amerika.Mereka menginap di Hotel Bali Beach. Ini tak lepas dari usaha Hargrove untuk mempromosikan Restoran Puri Suling kepada tamu Hotel Bali Beach, tempat Hargrove bekerja. Bagi wisatawan asing waktu itu, keberadaan Puri Suling juga besar artinya karena mereka tidak perlu khawatir hendak makan siang di mana dalam rangkaian turnya.
              Restoran Puri Suling tak hanya buka untuk makan siang tetapi sesekali juga menyelenggarakan dinner (makan malam) dengan pementasan tari kecak.Dinner seperti itu diadakan kalau ada special request (permintaan khusus). Setelah dikelola orang Amerika, Restoran Puri Suling sempat dikelola orang Belanda,sampai akhirnya restoran itu dibeli olehYudhara.
              Yudhara bekerja di Restoran Puri Suling selama sekitar empat tahun, dari 1965 sampai dengan 1969. Dia berhenti bekerja di Restoran Puri Suling sejak dia menikah."Tapi, alasan utama saya berhenti di restoran adalah karena saya ingin mencari pengalaman di bidang lain, tepatnya di hotel, kebetulan peluang terbuka;'kataYudhara.
              Mulai tahun 1969,Yudhara bekerja di Bali Seaside Cottages, di Sanur. Cottages ini terletak tepat di sebelah Selatan Bali Beach Hotel. Sejak lama sudah, cottages kini bergabung dengan Hotel Bali Beach sehingga namanya hilang dari peta pariwisata Bali dewasa ini. Setelah beroperasinya Hotel Bali Beach dan tetangganya Bali Seaside Cottages serta terbukanya bandara internasional Ngurah Rai,kedatangan wisatawan ke Bali mulai meningkat. Data yang ada menunjukkan, kalau tahun 1966 hanya ada 2150 orang turis mancanegara berkunjung ke Bali, tahun 1968 jumlah itu melompat menjadi 5000 orang, dan 1969 menjadi 10.000 orang yang melancong langsung lewat udara.
              Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Bali membuat sektor pariwisata berkembang pelan tetapi pasti.Yudhara ingat bahwa pada akhir 1960-an inilah untuk pertama kalinya masyarakat bergairah berbicara tentang pariwisata sebagai industri. Sebelumnya, pariwisata dianggap sebagai kegiatan biasa tanpa prospek bisnis yang istimewa, namun akhir 1960-an persepsi masyarakat berubah drastis. Selain karena kedatangan wisatawan mulai meningkat, hal ini juga tidak terlepas dari wacana yang dilontarkan pemerintah Pusat untuk menjadikan Bali sebagai daerah tujuan wisata Indonesia bagian tengah.
              
Dalam rencana pembangunan lima tahun pertama Orde Baru, pembangunan kawasan wisata Nusa Dua mendapat prioritas. Konsultan asing dari Perancis, misalnya, diundang untuk membuat studi kelayakan dan perencanaan,sementara itu lembaga keuangan internasional seperti World Bank (Bank Dunia) dan Asian Development Bank (Bank Pembangunan Asia) diundang untuk sudi membiayai proyek mega-resort di Nusa Dua:`Sejak awal 1970-an wacana dan perkembangan pariwisata Bali sangat dinamik. Publik menyambut dengan tanda tanya tapi antusias", kataYudhara.
   
           Dalam dinamisnya perkembangan pariwisata Bali, karierYudhara pun ikut menggelinding lancar. Di Bali Seside Cottages dia bekerja sebagai Assitant Front Office Manager.Yudhara bekerja di sini sampai 1970,selama setahun lebih. Peluang untuk menimba pengalaman di sektor lain kian terbuka sejalan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Bali. Hasyim Ning, konglomerat Indonesia yang mendirikan biro perjalanan wisata PACTO, menaksir Yudhara agar mau bergabung dengan cabang usahanya yang dibangun di Bali. Waktu itu PACTO Indonesia dipimpin oleh Warwick Purser sebagai general manager,sedangkan PACTO cabang Bali dipimpin oleh John Ketut Panca sejak 1967 (sampai 1978).Yudhara menduduki posisi sebagai Assistant Branch Manager untuk Bali mulai 1970.


      Lanjut..>>


Eyckman Yudhara Nama Kecilnya | Jadi Diplomat Cita citanya | Meniti Karier dari Puri Suling
Enam Belas Tahun Memimpin ASITA | Menjadi Konsul Kehormatan Mexico | Salah Satu Putra Terbaik Bali

 
Website Online Marketing by Krish Purnawarman