Salah
satu guru yang diingatnya mengajar di SLUB adalah Desak
Raka Nadha, istri pendiri dan pemilik Bali Post, Ketut
Nadha. MenurutYudhara, Ibu Raka Nadha adalah guru yang
baik,tegas dalam menanamkan disiplin. Memberikan dorongan
kepada siswa untuk rajin belajar tak pernah dilupakan.
Murid-murid pun menghormatinya sebagai guru yang berwibawa."Saya
mengikuti les ilmu pasti pada Bu Raka Nadha. Karena
itu, nilai saya mengalami peningkatan;' kata Yudhara.
Ketika
di SLUB, Yudhara merasakan kegiatan belajar sebatas
untuk memenuhi tugas-tugas sekolah.Artinya,minat-minat
khusus terhadap mata pelajaran tertentu belum tumbuh.
Cita-citanya kelak menjadi apa juga belum tergambar
jelas. Minat khusus terhadap satu mata pelajaran mulai
dirasakan tumbuh ketika I Gusti BagusYudhara masuk di
SLUA.Ketika itu, Yudhara mulai menyenangi pelajaran
bahasa Inggris. Bisa berbahasa Inggris waktu itu adalah
kebanggaan. Bali waktu itu sudah mulai didatangi wisatawan
mancanegara, walaupun belum sebanyak akhir tahun 1960an,yakni
setelah Bali Beach Hotel dan bandara Ngurah Rai dibangun.
Guru
bahasa InggrisYudhara di SLUA adalah I Gusti Ngurah
Sindhu. Beliau memiliki kemampuan mengajar yang memikat
sehingga muridmurid terdorong belajar bahasa Inggris.Yudhara
ingat bagaimana temanteman sekelasnya berlomba-lomba
belajar bahasa Inggris, berkompetisi agar cepat-cepatan
bisa. Ketika ditanya siapa teman-teman sekelasnya yang
semangat belajar bahasa Inggris itu,Yudhara menyebutkan
I Ketut Robin dan I MadeYastina,keduanya teman seprofesiYudhara
di industri pariwisata. Robin aktif di bisnis biro perjalanan
dan aktif di organisasi ASITA bersama Yudhara, namun
belakangan putar haluan ke dunia politik dengan menjadi
anggota dan pimpinan PDIP (Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan) Cabang Denpasar,yang kemudian mengantarkannya
menjadi wakil Wali kota Denpasar. Yastina terjun ke
bisnis biro perjalanan, antara lain dulu di Bali Tours
dan Astamata Tours.
Semasa
sekolah di SLUA,Yudhara aktif dalam organisasi sekolah
yang ada kaitannya dengan partai politik.Yudhara pernah
menjadi ketua satu Gerakan Siswa Nasionalis Indonesia
(GSNI), organisasi pelajar yang berafiliasi dengan Partai
Nasional Indonesia (PNI), partai yang di Bali dimpimpin
oleh ayahnya. Di samping itu,Yudhara aktif dalam gerakan
kepanduan (Pramuka)."Saya juga ikut menjadi penari
kecak di sekolah. Pelatihnya dari Bona, namanya Mudarya,"
kata Yudhara. Kecak siswa Saraswati merupakan satu-satunya
kecak sekolah yang ada waktu itu.
Kecak
Saraswati bukan untuk komersial tetapi dipentaskan untuk
kegiatan intern misalnya dalam rangka memeriahkan hari
ulang tahun sekolah yang jatuh pada tanggal 8 Desember,
hari jadinya Perguruan Rakyat (PR) Saraswati. Sejak
awal, PR Saraswati di tangan pendirinya Dr. I Gusti
Made Tamba dan I Gusti Putu Merta memang sangat peduli
dalam pembinaan seni budaya.Tak hanya kesenian Bali,juga
kesenian nasional atau modern seperti musik. "Dalam
kegiatan kesenian, siswa tak hanya mendapat kesempatan
membina bakat seni tetapi juga belajar berorganisasi
skala kecil" tuturYudhara.
Minat
beroganisasiYudhara bermula di sini dan berlanjut terus
ketika dia kuliah dan terjun ke masyarakat sebagai pengusaha
biro perjalanan. Meski aktif berorganisasi selama menjadi
pelajar,Yudhara tidak sampai mengesampingkan tugas-tugas
sekolah. Minatnya dalam belajar bahasa Inggris tetap
mendapat proritas waktu dalam belajar.Untuk memantapkan
penguasaan bahasa Inggris,Yudhara mengikuti les bahasa
Inggris pada Pandit Sastri,seorang guru dari India.Yudhara
sangat tekun mengikuti les ini yang ternyata menolong
dia dalam meningkatkan rasa percaya diri berkomunikasi
dalam bahasa Inggris.
Selain
belajar bahasa Inggris, Yudhara juga mengambil pelajaran
bahasa Jerman dan bahasa Perancis.Mata pelajaran bahasa
Jerman diajar langsung oleh I Gusti Made Tamba, pendiri
Perguruan Rakyat Saraswati, sedangkan bahasa Perancis
dan Inggris diajar oleh I Nyoman Oka alias Nang Lecir,
yang ketika itu sudah mulai aktif menjadi pemandu wisata.
Nang Lecir yang kemudian menjadi mertua I MadeYastina
adalah seorang pemandu wisata kawakan atau profesional
yang pernah dimiliki Bali terutama jika dilihat dalam
hal kemampuannya berbahasa Inggris dan pengetahuan budaya
yang diperlukan untuk seorang guide.
Nang
Lecir memberikan pengalaman istimewa kepada Yudhara
dan siswa lainnya dalam pengenalan pekerjaan sebagai
pemandu wisata. Tahun 1955 di Bali berlangsung pertemuan
Colombo Plan. Tiga orang siswa SLUA Saraswati termasuk
Yudhara dipilih oleh Nang Lecir untuk diajak membantu
tamu-tamu yang ikut dalam pertemuan Colombo Plan. Tugas
mereka persis seperti pemandu wisata umumnya, mulai
dari menyambut peserta di hotel dan mengantar tur dan
memberikan informasi yang diperlukan selama berada di
Bali. Rombongan pergi menonton tari kecak di Bona. Walaupun
kemampuan bahasa Inggris I Gusti Bagus Yudhara dan kawan-kawan
hanya pas-pasan ketika itu, pengalaman menjadi panitia
pemandu acara Colombo Plan sangat berkesan dan tak terlupakan.
Bukan saja karena itu merupakan pengalaman yang pertama
tetapi ternyata juga adalah pengalaman yang berguna
bagiYudhara yang kemudian terjun di bidang pariwisata.
"Kalau
saya ingat pengalaman tahun 1955 bersama guru saya Nang
Lecir, saya merasa terharu. Apa yang kami lakukan waktu
itu ternyata merupakan hal utama dalam kehidupan saya
kemudiannya, bahkan sampai sekarang karena saya bergerak
di bidang pariwisata. Waktu itu guru kami Nang Lecir
mungkin tak berfikir bahwa akhirnya kami terjun ke dunia
pariwisata. Dunia yang menjadi tempat kami hidup dan
menghidupi karyawan", kenangYudhara.
Jalan
berliku dan panjang mesti ditempuhYudhara sebelum akhirnya
menjadi pengusaha sukses di bidang biro perjalanan wisata.
Setamat dari SLUA,dia melanjutkan kuliah di Surabaya.
Mengapa ke Surabaya? Apakah cita-citanya? Bagaimanakah
lika-likunya kuliah di kota perjuangan Surabaya itu?
|