Sepulang
dari Makassar, I Gusti Putu Merta aktif dalam
berbagai kegiatan sosial dan organisasi, seperti
Bali Darma Laksana Cabang Denpasar. Bali Darma
Laksana adalah organisasi pemuda dan pelajar Bali
yang berpusat di Singaraja. Organisasi ini progresif
sekali dalam kegiatan-kegiatannya. Salah satu
bukti majunya wawasan dan aktivitas organisasi
ini bisa dilihat dari penerbitan majalah bulanan
Djatajoe (193f1941).Majalah ini memuat artikel
sosial,budaya,seni sastra,dan informasiinformasi
sekitar pendidikan. Sesekali, majalah Djatajoe
juga memuat artikel yang dikutip dari majalah
Poedjangga Baroe, terbit di Jakarta. Pemimpin
redaksi majalah Djatajoe ketika tahun-tahun pertama
terbit adalah sastrawan I Gusti Nyoman Panji Tisna.
Sebagai salah seorang kaum terdidik dan mulai
bekerja sebagai guru, I Gusti Putu Merta tak hanya
aktif di dalam organisasi Bali Darma Laksana Cabang
Denpasar tetapi juga aktif menulis artikel di
majalah Djatajoe. Artikel yang ditulis umumnya
mengenai perlunya generasi muda Bali mengembangkan
kebudayaannya sembari menyambut zaman kemajuan.
Minat I Gusti Putu Merta menulis artikel di majalah
tampak diteruskan sampai awal 1950-an. Hal ini
bisa dilihat lewat tulisan-tulisannya yang muncul
di majalah Damai. Pekerjaan pokoknya adalah guru,
sebelum akhirnya terjun ke dunia politik.
I
Gusti Ayu Rapeg,lahir 11 Mei 1917 di Banjar Belaluan
Denpasar.Beliau masih sehat ketika tulisan ini
disusun pada bulan April 2003.1 Gusti Ayu Rapeg
termasuk salah satu dari sedikit wanita Bali yang
beruntung.Awal tahun 1930-an, dia bersama sejumlah
wanita Bali mendapat beasiswa untuk melanjutkan
pendidikan ke Blitar, JawaTimur.Selama belajar,wanita
Bali tinggal di asrama. Sepulang dari Blitar,
pelajar Bali itu mendapat pekerjaan sebagai guru.
Di samping kesibukan sebagai guru, wanita Bali
itu juga aktif dalam gerakan nasionalisme. Mereka
berserikat mendirikan organisasi Poetri Bali Sadar,
Oktober 1936.
I
Gusti Ayu Rapeg menjadi salah satu pendiri Poetri
Bali Sadar. Dialah yang dipilih menjadi ketua
pertama organisasi ini.Tujuan Poetri Bali Sadar
adalah untuk mendorong dan membantu wanita agar
mau bersekolah. Tahun 1930-an, minat orang tua
menyekolahkan anak wanitanya rendah sekali. Mereka
berpandangan tugas wanita adalah di rumah. Pendidikan
dianggap tidak penting. Kelompok Poetri Bali Sadar
yang berpandangan maju ingin merombak adat tersebut.
Mereka tak senang melihat kaum wanita buta huruf,
ketinggalan dari laki-laki.
Poetri
Bali Sadar melakukan berbagai usaha untuk membuat
wanita tertarik bersekolah atau melek huruf. Mereka
melaksanakan kursus pemberantasan buta huruf bagi
kaum wanita yang sudah lewat umur sekolah. Wanita
miskin yang berminat bersekolah disediakan beasiswa.
Pendek kata, mereka menginginkan agar sebanyak-banyaknya
kaum wanita bisa maju seperti halnya kaum laki-laki.
I
Gusti Putu Merta dan I Gusti Ayu Rapeg menikah
10 Oktober 1940. Profesi sebagai guru terus dijalankan.
Pengalaman I Gusti Putu Merta di dunia pendidikan
kemudian berguna tahun 1946 saat beliau bersama
I Gusti Made Tamba mendirikan lembaga pendidikan
yang menjadi cikalbakal Perguruan Rakyat Saraswati.
Dalam lembaga ini, Pak Merta menjadi Ketua Yayasan
dan Pak Tamba menjadi Ketua Perguruan. Pada zaman
revolusi nasional, l Gusti Putu Merta terjun ke
dunia politik.
I
Gusti Putu Merta ikut mendirikan Parrindo (Partai
Rakyat Indonesia), 4 Desember 1946, yang tujuan
pokoknya antara lain memompa semangat nasionalisme
dan spirit demokrasi rakyat. Beliau merupakan
tokoh penting dalam sejarah berdirinya Partai
Nasional Indonesia (PNI) di Bali. Beliaulah ketua
DPD PNI Bali yang pertama,mulai Mei 1950.Tugas
pertama yang berat yang berhasil beliau kerjakan
adalah mendirikan cabang-cabang PNI di tingkat
kabupaten seluruh Bali. Jadilah PNI sebagai salah
satu partai besar di Bali.
Karier
I Gusti Putu Merta di bidang politik ini mengantarkannya
terpilih sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah (DPRD) Bali sejak tahun 1950 sampai 1965,
berarti selama 15 tahun. Beliau menjadi Pejabat
Gubernur Bali menggantikan Anak Agung Bagus Suteja
pasca-kudeta tahun 1965. Posisi sebagai pejabat
Gubernur Bali dipegang dua tahun, 1965-1967. Walaupun
menjadi pejabat gubernur, tugas-tugas yang dilaksanakan
tak ubahnya beliau sebagai seorang Gubernur.
Tahun
1950-an, ketika menjadi Ketua DPRD Bali, beliau
diangkat sebagai sekretaris panitia Persiapan
Perguruan Tinggi NusaTenggara,yang bertugas memantapkan
dan merealisasikan cita-cita pendirian Fakultas
Sastra di Bali. Panitia inilah yang akhirnya tahun
1958 berhasil mendirikan Fakultas Sastra, cikal
bakal Universitas Udayana.
Ketika
menjadi Pejabat Gubernur Bali, I Gusti Putu Merta
memperjuangkan kepada Presiden Soekarno dan Wakil
Presiden Sri Sultan Hamengku Buwono IX pendirian
dua proyek pembangunan fasilitas pariwisata Bali.
Pemerintah Pusat pada mulanya memberikan pilihan
kepada Bali,apakah ingin proyek hotel atau pembangunan
bandar udara? Beliau minta keduanya, karena hotel
tidak ada artinya dibangun kalau tidak dilengkapi
airport internasional, demikian juga sebaliknya.
Perjuangan beliau berhasil buktinya pemerintah
Pusat merestui pendirian Hotel Bali Beach sekaligus
perluasan bandara Ngurah Rai.Kedua fasilitas itu
merupakan tonggak penting perkembangan pariwisata
Bali. Sejak akhir 1960-an, Bali yang sudah terkenal
di mata pelancong mancanegara, mulai ramai dikunjungi
wisatawan asing.
Selama
menjadi Ketua DPRD dan pejabat Gubernur Bali,
I Gusti Putu Merta dan I Gusti Ayu Rapeg kerap
bertemu Presiden Soekarno. Sebagai Kepala Negara,
Presiden Sukarno sering datang ke Bali, baik untuk
mengantar tamu-tamu negara maupun untuk beristirahat
di Istana Tampaksiring. Adalah tugas I Gusti Putu
Merta dan I Gusti Ayu Rapeg untuk menemani Presiden
Seokarno dalam setiap kunjungannya ke Bali.
I Gusti Putu Merta ternyata senang mengoleksi
lukisan.Ada sekitar 40 lukisan yang ditinggalkan,
semuanya karya maestro pelukis Indonesia seperti
Affandi, Abdul Azis, I Gusti Nyoman Lempad, Sobrat,
dan pelukis asing yang tinggal di Bali seperti
Bonnet,Theo Maier,dan Hans SneIl.Masa purnabhakti
I Gusti Putu Merta diisi dengan kegiatan sosial
dan berkunjung ke desa-desa, sampai akhirnya beliau
dipanggil yang Maha Kuasa 19 November 1992.
Peninggalan
koleksi lukisan I Gusti Putu Merta masih dijaga
oleh Yudhara, dipajang di kediaman mereka di Sanur.
Ada rencana untuk membuat museum untuk mengoleksi
lukisan-lukisan tersebut sehingga abadi dan bisa
dinikmati oleh publik, termasuk tentu saja wisatawan.
Lokasi musuem kemungkinan di daerah daerah wisata
Sanur.Jika kelak terwujud, jumlah museum seni
lukis di Bali akan bertambah.
Begitulah
latar belakang orang tua Eyckman Yudhara. Dia
lahir dan tumbuh di tengah keluarga yang mula-mula
sebagai pendidik kemudian menjadi politikus atau
pejabat pemerintah. Saudara kandung Yudhara ada
tiga, namun satu meninggal ketika masih kecil,
usia tujuh tahun, sehingga kini tinggal dua, yaitu
I Gusti Ayu Umiyati dan I Gusti Ayu Mas Setiati.
Yudhara
masuk sekolah dasar dalam usia 7 tahun. Waktu
itu, ibunya menjadi kepala sekolah SR (Sekolah
Rakyat) S,Kayu Mas Kaja (gedungnya di sebelah
Timur SMPN I Denpasar),sementara I Gusti Putu
Merta menjadi guru di Perguruan Rakyat Saraswati.
Walaupun menjadi anak seorang kepala sekolah,Yudhara
kecil tak memperoleh keistimewaan apa-apa. Dia
tekun belajar sampai akhirnya bisa menyelesaikan
sekolah dasar tepat waktunya.
Kegiatan
kepanduan (kepramukaan) adalah salah satu aktivitas
ekstra yang pernah diikuti Yudhara ketika duduk
di sekolah dasar. Di luar jamjam pelajaran, seperti
halnya anak-anak lain seusianya,Yudhara gemar
bermain sepak bola dan layang-layang. "Mula-mula
saya main bola di depan sebuah halaman Pura Sari
di Jalan Belimbing, dekat rumah kami. Setelah
dewasa, kami sering main di alun-alun," kata
Yudhara. Walau menjadi anak pejabat,Yudhara merasa
tidak ada yang istimewa dalam masa kecilnya.Semuanya
berjalan normal.Ada sedih dan ada gembiranya.
Yudhara
kemudian melanjutkan ke SLUB (Sekolah Lanjutan
Umum Bawah setingkat SMP) Saraswati dan kemudian
ke SLUA (Sekolah Lanjutan Umum Atas setingkat
SMA), tempat I Gusti Putu Merta pernah mengajar.
Seperti anak-anak pada umumnya,Yudhara pun ke
sekolah naik sepeda. Walaupun dia anak pejabat,ayahnya
menjadi Ketua DPRD Bali, dia tidak merasa menjadi
orang istimewa.Yudhara diharapkan menjadi anak
yang pintar, cerdas dan maju oleh orang tuanya.
Orang tuanya memotivasinya agar rajin belajar,
mengikuti petunjuk guru.
|