Mahasiswa
Bali menjalin hubungan erat dengan sesamanya seasal.
Rasa persaudaraan dengan sesama mahasiswa asal Bali
sangat kompak waktu itu.Tak hanya dalam urusan belajar,tapi
juga ketika mereka pulang : kampung ke Bali untuk liburan
atau berangkat ke Surabaya saat liburan habis. Perjalananan
dari Bali ke Surabaya tahun 1960-an masih sangat sederhana
dan tidak ada pilihan. BiasanyaYudhara ke Surabaya naik
bus, lalu nyebrang di Gilimanuk, untuk kemudian naik
kereta api dari Banyuwangi ke Surabaya: "Fery penyebrangan
tidak sebesar sekarang.Yang ada hanya kapal-kapal kecil,
goyangnya keras kalau ombak besar," cetus Yudhara.
Dalam
perkembangan selanjutnya, ada bus Darma yang melayani
, transportasi ke Surabaya."Kami selalu naik bus
atau suberband. Selama jadi mahasiswa kami tak pernah
naik pesawat udara;' ujarYudhara yang kini menjadi agen
penjualan tiket pesawat terbang domestik dan internasional,dan
selalu bepergian ke mana pun dengan pesawat terbang
, Kondisi transportasi yang tak lancar waktu itu membuatYudhara
tak bisa .sering-sering pulang ke Bali. "Setahun,
saya paling pulang sekali. Saat liburan;'tandasnya.Pak
Merta jarang ke Surabaya menengok Yudhara. Selain kendala
transportasi, juga karena kesibukan Pak Merta sebagai
Ketua DPRD Bali. "Bapak dan Ibu sibuk untuk urusan
tugas dinas, hampir tidak pernah mereka menengok kami
di Surabaya;'tambahYudhara.Terlepas dari itu, tentu
saja Pak Merta dan Bu Rapeg merasa yakin anaknya mendapat
pengawasan yang baik dari Pak Angka Nitisastro.
Situasi
sosial politik tahun 1960-an ikut mendorong para mahasiswa
untuk aktif dalam organisasi sosial. Waktu itu organisasi
mahasiswa berafiliasi dengan partai politik.Yudhara
terpilih menjadi Ketua Gerakan Mahasiswa Nasionalis
Indonesia (GMNI) Komisariat Fakultas Hukum Unair. Hal
ini tidak terlepas dari faktor Pak Angka Nitisastro
yang dikenal sebagai tokoh nasionalis Jawa Timur yang
berpengaruh.
Langsung
atau tidak,PakAngka Nitisastro ikut memberikan pendidikan
politik dan semangat nasionalisme kepadaYudhara.Sebagai
ketua GMNI, Yudhara mendapat banyak bantuan dan dukungan
dari teman-temannya asal Bali dan teman-teman sekuliahnya
di Fakultas Hukum. Salah satu temannya ketika kuliah
di Fakultas Hukum Unair adalah Tri Mulya D. Suryadi,S.H.,
dikenal di Indonesia sebagai pengacara kawakan yang
membela sampai menang kasus pembreidelan majalah Tempo
tahun 1994 oleh rezim Orde Baru.
Sebetulnya
minat Yudhara pada organisasi sosial (politik) sudah
tumbuh sejak dia masih menuntut ilmu di SLUA Saraswati.Waktu
itu dia terpilih menjadi ketua satu Gerakan Siswa Nasionalis
Indonesia (GSNI). Teman-temannya melihat bahwa Yudhara
memang dekat dengan dunia partai politik, khususnya
PNI, karena ketika itu ayahnya I Gusti Putu Merta adalah
Ketua DPD PNI Bali sekaligus Ketua DPRD Bali. Lebih
dari pengaruh lingkungan,Yudhara sendiri dari lubuk
hatinya yang paling dalam memang senang berorganisasi.
Kegiatan organisasi, baginya, merupakan arena untuk
bergaul dan menimba pengetahuan untuk menjadi pemimpin
(leader) kelak.
Kegiatan
Yudhara di bidang organisasi mahasiswa tidak mengurangi
konsentrasinya di bidang pendidikan. Pak Angka Nitisastro
selalu mengingatkan dia agar memberikan keseimbangan
antara kegiatan organisasi sosial dan akademik. Walaupun
Yudhara sendiri merasa dia bukanlah manusia yang cerdas,toh
tugas-tugas kuliah sebagai mahasiswa dapat diselesaikan
dengan baik. Dulu kuliah masih dengan sistem tingkat,
bukan sistem semester seperti sekarang. Setelah empat
tahun kuliah, barulah seseorang bisa maju untuk mengikuti
ujian dan menulis skripsi untuk meraih gelar sarjana
muda hukum.
Yudhara
bisa melampaui ujian sarjana mudanya.Tahun 1965 awal
dia sudah meraih gelar sarjana muda hukum (Sm.Hk.).
Gelar sarjana muda waktu itu sangat bernilai dan berwibawa.
Karena sulit meraih gelar sarjana muda, jarang mahasiswa
melanjutkan langsung untuk menyelesaikan gelar sarjana
(S-1). Biasanya istirahat sejenak dilakukan mahasiswa
sebelum melanjutkan ke tingkat doktoral untuk meraih
gelar sarjana. ktirahat ini tak hanya untuk melepas
lelah tetapi sering digunakan sebagai persiapan mental
untuk memasuki jenjang pendidikan doktoral yang tantangannya
lebih besar.
Demikian
juga halnya denganYudhara.Begitu mendapatkan sertifikat
Sm.Hk., dia pulang ke Bali dengan rasa riang. Setelah
istirahat sejenak di Bali, dia kembali ke Surabaya untuk
kuliah.Tapi, selang tak begitu lama, situasi sosial
politik di Tanah Air memanas yang puncaknya ditandai
dengan huru-hara G 30 S/PKI 1965. Di Bali ketegangan
itu sangat dirasakan, terutama oleh kalangan PNI yang
terlibat dalam permusuhan sengit dengan PKI dan para
pengikutnya.
|