264
BPW menyatakan setuju dan 4 BPW menyatakan tidak.Hal
ini tertuang dalam kuesioner yang disebarkan kepada
semua anggota.Musda akhirnya dilaksanakan 7 Mei
2003 di Hotel Radisson (Sanur Paradise Plaza),Sanur.
Selama
memimpin ASITA, Yudhara dan jajaran pengurus mendapat
dukungan dari anggota.Satu prestasi pentingYudhara
adalah keberhasilannya untuk membangun kantor
tetap ASITA di Jalan Tunjung Bang 14, Tohpati,
Denpasae ASITA menjadi organisasi profesi pertama
yang bisa mendirikan kantor sendiri. Kantor berdiri
di atas lahan seluas dua are, dengan tipe bangunan
berlantai dua. Ruang di bawah untuk administrasi,
sedangkan ruang di atas untuk pertemuan.
Walaupun
kecil-mungil, kantor ini sangat strategis dan
dapat membantu kelancaran operasi sekretariatASITAsebagai
organisasi profesi bidang kepariwisataan. Sebelumnya
ASITA meminjam atau mengontrak kantor berpindah-pindah.
Dengan adanya kantor permanen dan milik organisasi,
kelancaran urusan sekretariat dan koordinasi kegiatan
ASITA lebih terjamin. '
Program
familiarisation trip banyak dilakukan Yudhara
ketika memimpin ASITA. Kegiatan tur pengenalan
dan pendalaman destinasiwisata itu dilaksanakan
di objek-objek wisata di Bali,di luar Bali di
wilayah Indonesia dan di luar negeri khususnya
daerah sumber pasar wisatawan Bali, seperti Jepang
dan Australia. Program promosi ini merupakan hasil
i:erja sama ASITA dengan PHRI, penerbangan seperti
Garuda dan maskapai asing serta pemerintah. Zaman
ASITA dipimpin Yudhara, kerja sama antar-organisasi
dan dengan pemerintah sangat bagus, walau ada
banyak juga persoalan yang tidak bisa ditangani.
Zaman
Yudhara memimpin ASITA, gelombang kehidupan pariwisata
Bali naik-turun dengan tajam alias penuh goncangan.
Pada awalnya memang ada booming besar, dengan
mengalirnya kedatangan wisatawan mancanegara ke
Bali. Perekonomian dunia membaik.Jumlah warga
dunia yang bepergian meningkat. Pulau Bali dilirik
oleh maskapai penerbangan internasioal seperti
JAL dan ANA dari Jepang, Lufthansa, KLM, Cathay
Pasific,Air France, Lauda Air, Continental Micronesia,Air
New Zealand,Ansett Australia Airlines, menyusul
kehadiran maskapai lain yang sudah hadir terlebih
dahulu seperti Qantas dan Singapore Airlines.
Mereka semua terbang langsung ke Bali. Pada saat
bersamaan, Garuda terus menambah jalur penerbangan
ke berbagai tujuan di luar negeri untuk menjemput
langsung wisatawan yang hendak berlibur ke Bali.
Kedatangan turis ke Bali meningkat tajam. Hal
ini membuat usaha-usaha BPW baru pun bermunculan.
Anggota ASITA bertambah, organisasi ini pun tumbuh-kembang.
Dalam
setiap kehadiran maskapai baru dan langkah Garuda
membuka rute-rute baru,ASITA selalu dilibatkan
dalam program promosi dan inaugural flight. Tahun
1990, misalnya, Garuda membuka jalur penerbangan
ke Fukuoka. Saat itu,Yudhara sebagai Ketua ASITA
ikut berjejer sebagai tamuVIP bersama Dubes Indonesia
untukJepang dan pejabat tinggi tuan rumah Fukuoka
untuk menggunting pita serentak menandai hadirnya
Garuda di Fukuoka. Seremoni itu berlangsung rapi,
lancar, dan penuh wibawa. Dalam kewibawaan itu,Yudhara
hadir sebagai wakil dari biro perjalaan wisata
Bali.
Seriusnya
maskapai penerbangan menggarap pasar Bali tentu
karena rnereka melihat potensi Bali sangat besar.
Hal ini terutama didukung dengan semakin tersedianya
fasilitas hotel mewah dan resort indah seperti
di kawasan Nusa Dua. Kebijakan pemerintah mengeluarkan
bebas visa kepada sejumlah negara dan kebijakan
penerbangan yang agak terbuka serta perluasan
Bandara Ngurah Rai. Selain itu, kawasan Kuta yang
sejak dulu terkenal sebagai budget class destination
yang digandrungi wisatawan Australia dan beberapa
dari negeri Eropa, ikut menyusul kemajuan Nusa
Dua dengan terbangunnya hotel-hotel berbintang
di Kuta.
Bisnis
wisata kian berkembang, begitu juga halnya dengan
usaha biro perjalanan. Agen-agen bermunculan,
baik kantor pusat maupun kantor cabang.
Masalah
pelik yang muncul ketikaYudhara memimpin ASITA
juga tak kurang banyaknya. FL-rang Teluk pecah
tahun 1991 yang membuat bisnis pariwisata Bali
anjlok total. Nasib BPW yang bernaung di bawah
ASITA juga parah. Dalam krisis itu, sebagai Ketua
ASITA Yudhara tetap berusaha mengajak pengurus
ASITA dan segenap anggota untuk tetap bertahan
karena masa paceklik tidak akan berlangsung lama.
Masa krisis digunakan ASITA untuk meningkatkan
kualitas SDM karyawan BPWASITA memprakarsai beberapa
kursus seperti ticketing dan accounting, bekerja
sama dengan maskapai penerbangan dan perbankan.
Setelah
krisisTeluk lewat,industri pariwisata Bali didera
isu kolera dari pasar Jepang beberapa kali, tepatnya
tahun 1994 dan tahun 1996. Pasar Jepang yang selalu
menduduki urutan teratas jumlah kunjungan wisatawan
luar negeri ke Bali tiba-tiba anjlok karena seorang
turis Jepang dilaporkan menderita kolera setelah
berlibur ke Bali. Citra Bali di Jepang jatuh luar
biasa. Media pekabaran Jepang menyiarkan sudut-sudut
kumuh Bali dan juga pedagang kaki lima yang jualannya
tak hygienes.
Efek
berita buruk itu juga sampai ke Australia,walau
penurunan jumlah turis Australia ke Bali tidak
sedrastis angka anjloknya turis Jepang. Dalam
kasus ini pun, ASITA bekerja keras bahu-membahu
dengan komponen pariwisata lain dan pemerintah
daerah untuk memulihkan citra Bali dipasar wisatawan
Jepang: `Kita sibuk dan bekerja keras untuk membantah
isu kolera.Ibu Makiko yang berasal dari Jepang
dan Pak Oka Suci,bersama pengurus ASITA lainnya,
kami bekerja keras untuk memulihkan citra Bali
di mata turis Jepang. Tanpa turis, anggota kami
jelas limbung, tak ada bisnis,karyawan tak bekerja,"
kata Yudhara.
|