Enam Belas Tahun Memimpin ASITA

 

 

 

               264 BPW menyatakan setuju dan 4 BPW menyatakan tidak.Hal ini tertuang dalam kuesioner yang disebarkan kepada semua anggota.Musda akhirnya dilaksanakan 7 Mei 2003 di Hotel Radisson (Sanur Paradise Plaza),Sanur.
   
            Selama memimpin ASITA, Yudhara dan jajaran pengurus mendapat dukungan dari anggota.Satu prestasi pentingYudhara adalah keberhasilannya untuk membangun kantor tetap ASITA di Jalan Tunjung Bang 14, Tohpati, Denpasae ASITA menjadi organisasi profesi pertama yang bisa mendirikan kantor sendiri. Kantor berdiri di atas lahan seluas dua are, dengan tipe bangunan berlantai dua. Ruang di bawah untuk administrasi, sedangkan ruang di atas untuk pertemuan.
   
            Walaupun kecil-mungil, kantor ini sangat strategis dan dapat membantu kelancaran operasi sekretariatASITAsebagai organisasi profesi bidang kepariwisataan. Sebelumnya ASITA meminjam atau mengontrak kantor berpindah-pindah. Dengan adanya kantor permanen dan milik organisasi, kelancaran urusan sekretariat dan koordinasi kegiatan ASITA lebih terjamin. '
   
            Program familiarisation trip banyak dilakukan Yudhara ketika memimpin ASITA. Kegiatan tur pengenalan dan pendalaman destinasiwisata itu dilaksanakan di objek-objek wisata di Bali,di luar Bali di wilayah Indonesia dan di luar negeri khususnya daerah sumber pasar wisatawan Bali, seperti Jepang dan Australia. Program promosi ini merupakan hasil i:erja sama ASITA dengan PHRI, penerbangan seperti Garuda dan maskapai asing serta pemerintah. Zaman ASITA dipimpin Yudhara, kerja sama antar-organisasi dan dengan pemerintah sangat bagus, walau ada banyak juga persoalan yang tidak bisa ditangani.
   
            Zaman Yudhara memimpin ASITA, gelombang kehidupan pariwisata Bali naik-turun dengan tajam alias penuh goncangan. Pada awalnya memang ada booming besar, dengan mengalirnya kedatangan wisatawan mancanegara ke Bali. Perekonomian dunia membaik.Jumlah warga dunia yang bepergian meningkat. Pulau Bali dilirik oleh maskapai penerbangan internasioal seperti JAL dan ANA dari Jepang, Lufthansa, KLM, Cathay Pasific,Air France, Lauda Air, Continental Micronesia,Air New Zealand,Ansett Australia Airlines, menyusul kehadiran maskapai lain yang sudah hadir terlebih dahulu seperti Qantas dan Singapore Airlines. Mereka semua terbang langsung ke Bali. Pada saat bersamaan, Garuda terus menambah jalur penerbangan ke berbagai tujuan di luar negeri untuk menjemput langsung wisatawan yang hendak berlibur ke Bali. Kedatangan turis ke Bali meningkat tajam. Hal ini membuat usaha-usaha BPW baru pun bermunculan. Anggota ASITA bertambah, organisasi ini pun tumbuh-kembang.
   
            Dalam setiap kehadiran maskapai baru dan langkah Garuda membuka rute-rute baru,ASITA selalu dilibatkan dalam program promosi dan inaugural flight. Tahun 1990, misalnya, Garuda membuka jalur penerbangan ke Fukuoka. Saat itu,Yudhara sebagai Ketua ASITA ikut berjejer sebagai tamuVIP bersama Dubes Indonesia untukJepang dan pejabat tinggi tuan rumah Fukuoka untuk menggunting pita serentak menandai hadirnya Garuda di Fukuoka. Seremoni itu berlangsung rapi, lancar, dan penuh wibawa. Dalam kewibawaan itu,Yudhara hadir sebagai wakil dari biro perjalaan wisata Bali.
   
            Seriusnya maskapai penerbangan menggarap pasar Bali tentu karena rnereka melihat potensi Bali sangat besar. Hal ini terutama didukung dengan semakin tersedianya fasilitas hotel mewah dan resort indah seperti di kawasan Nusa Dua. Kebijakan pemerintah mengeluarkan bebas visa kepada sejumlah negara dan kebijakan penerbangan yang agak terbuka serta perluasan Bandara Ngurah Rai. Selain itu, kawasan Kuta yang sejak dulu terkenal sebagai budget class destination yang digandrungi wisatawan Australia dan beberapa dari negeri Eropa, ikut menyusul kemajuan Nusa Dua dengan terbangunnya hotel-hotel berbintang di Kuta.
   
            Bisnis wisata kian berkembang, begitu juga halnya dengan usaha biro perjalanan. Agen-agen bermunculan, baik kantor pusat maupun kantor cabang.
   
            Masalah pelik yang muncul ketikaYudhara memimpin ASITA juga tak kurang banyaknya. FL-rang Teluk pecah tahun 1991 yang membuat bisnis pariwisata Bali anjlok total. Nasib BPW yang bernaung di bawah ASITA juga parah. Dalam krisis itu, sebagai Ketua ASITA Yudhara tetap berusaha mengajak pengurus ASITA dan segenap anggota untuk tetap bertahan karena masa paceklik tidak akan berlangsung lama. Masa krisis digunakan ASITA untuk meningkatkan kualitas SDM karyawan BPWASITA memprakarsai beberapa kursus seperti ticketing dan accounting, bekerja sama dengan maskapai penerbangan dan perbankan.
   
            Setelah krisisTeluk lewat,industri pariwisata Bali didera isu kolera dari pasar Jepang beberapa kali, tepatnya tahun 1994 dan tahun 1996. Pasar Jepang yang selalu menduduki urutan teratas jumlah kunjungan wisatawan luar negeri ke Bali tiba-tiba anjlok karena seorang turis Jepang dilaporkan menderita kolera setelah berlibur ke Bali. Citra Bali di Jepang jatuh luar biasa. Media pekabaran Jepang menyiarkan sudut-sudut kumuh Bali dan juga pedagang kaki lima yang jualannya tak hygienes.
   
            Efek berita buruk itu juga sampai ke Australia,walau penurunan jumlah turis Australia ke Bali tidak sedrastis angka anjloknya turis Jepang. Dalam kasus ini pun, ASITA bekerja keras bahu-membahu dengan komponen pariwisata lain dan pemerintah daerah untuk memulihkan citra Bali dipasar wisatawan Jepang: `Kita sibuk dan bekerja keras untuk membantah isu kolera.Ibu Makiko yang berasal dari Jepang dan Pak Oka Suci,bersama pengurus ASITA lainnya, kami bekerja keras untuk memulihkan citra Bali di mata turis Jepang. Tanpa turis, anggota kami jelas limbung, tak ada bisnis,karyawan tak bekerja," kata Yudhara.


      Lanjut..>>


Eyckman Yudhara Nama Kecilnya | Jadi Diplomat Cita citanya | Meniti Karier dari Puri Suling
Enam Belas Tahun Memimpin ASITA | Menjadi Konsul Kehormatan Mexico | Salah Satu Putra Terbaik Bali