KESEMPATAN
bagi I Gusti BagusYudhara memimpin ASITA selama
16 tahun merupakan hal yang istimewa. Dikatakan
istimewa karena kepercayaan yang diperoleh Yudhara
untuk memimpin organisasi biro perjalanan wisata
ini selama empat periode masa bhakti tidak pernah
disamai orang lain dalam sejarah ASITA Bali dan
mungkin juga pada masa datang.
Beberapa
pertanyaan kemudian timbul: Mengapa Yudhara bisa
atau mesti duduk di tapuk pimpinan ASITA begitu
lama? Tidakkah anggaran dasar dan atau anggaran
rumah tangga ASITA mengatur masa jabatan seorang
ketua? Pertanyaan yang lebih tajam lagi: Tidak
adakah kader pimpinan yang tumbuh dari tubuh ASITA
selama 16 tahun terakhir sehingga beban mengendalikan
ASITA mesti terpikul di pundakYudhara?
Sebelum
menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya menoleh
ke belakang, menengok sepintas keberadaan ASITA
sejak awal berdirinya dan para tokoh yang pernah
menjadi Ketua ASITA Bali.
ASITA
singkatan dari Association of The Indonesian Tours
and Travel Agencies. Belakangan ASITA juga populer
dengan kepanjangan Asosiasi Biro Perjalanan Wisata
(BPW). Seperti ditulis dalam buku Itinerari ASITA
BALI suntingan Widminarko dan Darma Putra (terbitan
DPD ASITA Bali 1994),ASITA didirikan di Jakarta
7 Januari 1971 sebagai peleburan dari dua organisasi
serupa,yaitu ITTRA,kependekan dari Indonesian
Tour and Travel Association, dan MATRAI, kependekan
dari Majelis Travel Agent Indonesia.
Yang
membedakan ITTRA dengan MATRAI adalah status keanggotaannya
dalam IATA (International Air Transport Association).
ITTRA
adalah non-IATA Agents, beranggota 22 perusahaan,
sedangkan MATRAI adalah IATA Agent dengan jumlah
anggota 13 perusahaan. Keduanya bergabung menjadi
satu dengan nama baru,ASITA.
Segera
setelah pembentukan ASITA di Jakarta, cabang ASITA
Bali pun dibentuk,kira-kira tahun 1974.Ketua DPD
ASITA Bali pertama adalah Ketut Wiharsa, pria
kelahiran 11 November 1932, Banyuatis, Buleleng.
Wiharsa belajar bahasa Inggris di Yogya, melanjutkan
ke Jurusan Biro Perjalanan di Tokyo University
(Jepang), lalu mendapat tugas di Nitour Belanda,
sebelum akhirnya menjadi Manajer Nitour Bali Office
tahun 1974. Ketika menjadi manajer Nitour Bali
Office inilah,Wiharsa mendapat kepercayan memimpin
ASITA Bali, selama dua tahun,1974-1975.Wiharsa
yang meninggal 15 November 1993 ini dekat dengan
keluarga Sultan Hamengku Buwono IX, mantan Wapres
yang banyak berurusan dengan bidang pariwisata
termasuk pengelolaan Nitour.
Ketua
ASITA Bali yang kedua adalah John Ketut Panca,
pengganti Wiharsa. John Panca memimpin ASITA Bali
selama dua periode, 19751976 dan 197Cr1978.Waktu
itu John Panca menjadi manajer PACTO cabang Bali.
"Sebenarnya saya tidak ingin memimpin ASITA
waktu itu karena saya belum punya perusahaan sendiri,"katanya.
Namun, karena organisasi ASITA bermanfaat untuk
menata secara organisastoris usaha biro perjalaan
wisata di Bali, kesempatan itu diambil juga. Sebetulnya,
konsep John Panca adalah sebaiknya ASITA dipegang
oleh mereka yang bekerja sekaligus pemilik biro
perjalanan wisata (BPW).
Ketua
ASITA Bali yang ketiga adalah I Ketut Pater Suarsha
(kelahiran Buleleng Oktober 1935).Pengganti John
Panca ini memimpin ASITA untuk sekali masa bhakti,yaitu
1978-1981. Pergantian ini dilakukan lewat musyawarah
daerah (musda) di Hotel Bali Beach. Pater Suarsha
pernah bekerja di Bali Tours, Dewi Tours, Bill
Tours, sebelum akhirnya membentuk usaha entertainment
Bali Holidays dan ikut membeli Bali Tours.
Keadaan
bisnis pariwisata Bali sudah melejit akhir 1970-an.Turis
yang datang ke Bali sudah mencapai angka sekitar
150 ribu per tahun, dari total ke Indonesia sekitar
450 ribu. Waktu itu negara tetangga Malaysia sudah
mendapat kunjungan wisatawan 1 juta dan Singapura
2 juta orang per tahun. Melihat potensi Bali dan
membandingkan dengan Singapura, Pater Suarsha
dan jajaran ASITA serta pemerintah mencanangkan
target Bali meraih sejuta wisatawan.
Ketua
ASITA Bali yang keempat adalah Susilo Joyosumarto,
manajer PACTO cabang Bali. Susilo menjadi ketua
ASITA untuk satu periode,yakni 1981-1984. Dia
pernah menjadi Ketua ASITAYogya (1977-1979). Ketika
ASITA dipimpin Susilo, organisasi ini membentuk
kantor sekretariat yang tetap,walau bukan kantor
milik sendiri. Hal ini ditempuh mengingat kian
banyak urusan dan tugas-tugas ASITA terutama dalam
menangani keanggotaan dan partisipasi dalam membangun
pariwisata Bali.
Ketua
ASITA Bali yang kelima adalah I Wayan Widjaya
(kelahiran Penebel,Tabanan 14 November 1936) yang
terpilih lewat musda di Hotel Nusa Dua Beach.Widjaya
memimpin ASITA untuk satu periode,yaitu 1984 1986.
Ketika itu, ASITA Bali baru memiliki 18 anggota.
Bidang usaha dan pasar mereka kurang-lebih sama
sehingga Widjaya berusaha untuk memotivasi anggotanya
agar membuat diversifikasi pasar sehingga pasar
tergarap dan persaingan tidak tajam sesama anggota.
Ketua
ASITA keenam adalah I Wayan T Suarshana, kelahiran
Tembuku, Bangli 18 Desember 1942, pemilik Suar
Nusa Jaya Tours dan Bali Tropic Hotel diTanjung
Benoa.Dia menjadi KetuaASITAsatu periode, yaitu
1986-1988. Zaman ini, ASITA Bali bekerja sama
dengan PHRI dan Diparda berhasil menerbitkan buku
promosi Bali Plus. Kegiatan promosi pariwisata
Bali ke luar negeri dipergiat, sedangkan kerja
sama ASITA dengan pemerintah daerah dalam menangani
berbagai masalah seperti pedagang acung dan kebersihan
objek wisata banyak dilakukan zaman kepengurusan
Suarshana.
Yudhara
adalah Ketua ASITA Bali yang ketujuh, untuk empat
periode, yaitu 1987-1991; 1991-1994; 1994-1997;
1997-2003.Yudhara memimpin ASITA hampir 16 tahun.
Dia terpilih secara aklamasi lewat musda-musda.
Berulang kali Yudhara mencoba mundur tetapi pendukungnya
senantiasa meminta agarYudhara bisa memimpin ASITA.
Ketika dipilih untuk ketiga kalinya tahun 1994,misalnya,terjadi
diskusi alot yang membahas anggaran dasar yang
menentukan bahwa ketua hanya bisa menjabat dua
kali masa jabatan. Akhirnya disepakati untuk mengubah
anggaran dasar tanpa memberikan pembatasan kepada
calon untuk dipilih sepanjang anggota menghendaki.
Musda tahun 1994 di Hotel Bali Beach akhirnya
memilihYudhara lagi untuk ketiga kalinya.
Terpilih
ketigakalinya ternyata bukan kesempatan terakhir
bagi Yudhara memimpin ASITA. Pada musda tahun
1997, dengan sangat mengejutkan dia dipilih lagi
untuk masa jabatan keempat kalinya.Jabatan keempat
mestinya sudah berakhir 18 Desember 2002, tetapi
antara lain karena ledakan bom dan berbagai krisis
ekonomi yang menyita perhatian anggota BPW, Musda
ASITA ke-10 disepakati untuk ditunda. Keputusan
penundaan ini diambil berdasarkan kesepakatan
anggota. Hasil pendataan terhadap anggota menunjukkan:
dari 268 BPW anggota ASITA,
|